Tuesday, November 13, 2012

bahasa sebagai cara ciri bangsa


BAHASA SEBAGAI CARA-CIRI BANGSA

oleh  sang mahaguru abah uci LQ Hendrawan pada 12 November 2012 pukul 11:10 ·


Sampurasun

Seringkali masyarakat Jawa Barat dihadapkan kepada persoalan "bahasa", baik yang salah dalam "mengungkapkan" hingga kesalahan dalam "memaknainya" (nilai). Selain itu, kegelapan atas jejak AJARAN para Leluhur Bangsa telah mengakibatkan kehilangan cara-ciri kehidupan bermasyarakat bersama kecerdasan budayanya. Singkat kata boleh dikatakan bahwa masyarakat Jawa Barat telah KEHILANGAN JATI-DIRI.

BAHASA adalah CARA-CIRI SUATU BANGSA... BAHASA adalah TANDA KECERDASAN SUATU BANGSA... artinya; jika suatu bangsa telah kehilangan "bahasa" nya maka hilang pula CARA dan CIRI serta hilang pula "KECERDASAN" nya. Pepatah tersebut seperti tidak dimengerti oleh masyarakat Jawa Barat... bahkan boleh jadi tidak terpahami oleh sebagian 'besar' masyarakat Indonesia saat ini. Padahal, semua cara dan sumber daya kehidupan yang berguna telah diberikan oleh PARA LELUHUR BANGSA kepada "kita" sebagai PEWARIS-nya yang sah.
Contoh :
- Tanah, Air, Udara, Api ---> TINGGAL PAKAI.... (*jangan lupa untuk merawatnya).
- Budaya dan Kesenian ---> TINGGAL PAKAI.... (*gunakan dan lestarikan sebaik mungkin).
- Bahasa dalam berbagai bentuk ---> TINGGAL PAKAI.... (*kita tidak perlu menciptakan yang baru)
- ....dll...dsb... SEMUA YANG ADA DI NEGERI INI TINGGAL MEMAKAINYA... dan tidak perlu mempergunakan warisan milik LELUHUR BANGSA LAIN dari negeri manapun juga (*sebab milik bangsa kita jauh lebih kaya dan lebih berbobot dari milik mereka).

Seluruh bangsa-bangsa di dunia ini masih MEMPERTAHANKAN KEBUDAYAAN serta sumber daya kehidupan mereka yang diwariskan dari para leluhurnya, seperti; ARAB, CINA, INDIA, THAILAND, JEPANG, INGGRIS, NORWEGIA, RUSIA... dll... mereka merawat, mengembangkan, memajukannya ke panggung dunia dengan penuh kebanggaan... mereka mempertaruhkan HARGA-DIRI BANGSA & KEHORMATAN di hadapan masyarakat dunia... ini luar biasa... dan hal itu sungguh jauh berbeda dengan bangsa kita (Indonesia).

BAHASA sama-sekali bukan hanya sekedar KATA dan KALIMAT yang keluar dari MULUT, bahkan lebih dari itu... "bahasa" yang dimaksud dapat berupa BANGUNAN, TARIAN, MAKANAN, PAKAIAN, SENJATA... GERAK TUBUH (tingkah perilaku)... dan sebagainya. Maka sungguh "membingungkan" jika di negara ini terdapat PELAJARAN BAHASA SUNDA (*pun bahasa Indonesia) yang hanya sebatas mempelajari SUSUNAN KATA atau KALIMAT... hal ini jelas sungguh mendangkalkan serta mencebolkan arti BAHASA.

BAHASA bukan semata suara yang keluar dari gerak LIDAH dan BIBIR... pengertian "B A H A S A" dalam kebudayaan asli bangsa kita itu termasuk; GERAKAN TUBUH, SIKAP TUBUH, NADA, IRAMA, JENIS SUARA, dan sebagainya... juga ditentukan oleh LAWAN BICARA. Bagi bangsa kita berbicara itu harus dengan aturan atau sering disebut sebagai TATA-KRAMA, TATA-LAKSANA, TATA-TERTIB, TATA-WICARA... jadi berbicara itu bagi bangsa kita adalah suatu discipline (disiplin) atau ketertataan yang berkaitan erat dengan KEHORMATAN.

Pengertian BAHASA yang sesungguhnya adalah CARA SUATU BANGSA DALAM MENYAMPAIKAN PESAN, dan tentu setiap bangsa memiliki CIRI tersendiri dalam menyampaikan pesan itu. Singkatnya "bahasa" merupakan KEBUDAYAAN YANG SEUTUHNYA dari suatu bangsa. Di masyarakat Jawa (*khususnya Jawa Barat) terdapat berbagai jenis BAHASA yang telah DIMUSNAHKAN dengan sengaja, misalnya:
- Bahasa dalam bentuk BANGUNAN, seperti bangunan kehormatan "Julang Ngapak".
- Bahasa dalam bentuk BUNYI-BUNYIAN, seperti "Kacapi Suling"
- Bahasa dalam bentuk LAGU, seperti "Pantun dan Tembang"
- Bahasa dalam bentuk MAKANAN, seperti "Sanghu Tumpeng"
- Bahasa dalam bentuk PAKAIAN, seperti "Kebaya, Pangsi & Iket"
- Bahasa dalam bentuk GERAK, seperti "Penca dan Tarian"
- Bahasa dalam bentuk RAGAM HIAS, seperti pada "Batik"
- .........dalam bentuk; SEGALA PERILAKU
dsb...dll...

Dalam keadaan negara dan bangsa kita yang sedang TERPURUK disegala bidang, termasuk persoalan BAHASA yang semakin "didominasi" oleh BAHASA INGGRIS dan BAHASA ARAB saya kira sangat bijaksana jika kita mulai menata BAHASA NUSANTARA agar dapat kembali menjadi bangsa BERADAB (tahu diri), bangsa yang mampu mempertahankan KEBUDAYAAN BESAR-nya... agar kelak dapat DIWARISKAN kepada PEWARIS NEGERI YANG AKAN DATANG.... Agar keberadaan bangsa Nusantara tetap "seksi dan eksotis" di hadapan panggung kebudayaan dunia..... dan anggap saja hal ini sebagai wujud nyata ungkapan rasa TERIMA-KASIH kita kepada para LELUHUR BANGSA yang telah mewariskan berbagai sumber daya kehidupan kepada kita semua yang menjadi keturunannya... Ahuuung... _/|\_


Neda Ampun nya Paralun
Tabe Pun _/|\_ Mugia Rahayu Sagung Dumadi

Thursday, November 8, 2012

semangatlah indinesia ku

NUSA TENGGARA-MALUKU: DALAM PENELUSURAN PENYEBARAN AWAL MANUSIA DI DUNIA

NUSA TENGGARA-MALUKU:

DALAM PENELUSURAN PENYEBARAN AWAL MANUSIA DI DUNIA

&

PENEMUAN HOMO FLORESINENSIS

Oleh Chris Boro Tokan

Pendahuluan

Wilayah NUSA TENGGARA-MALUKU, menggambarkan letak geografi yang selalu disebutkan dalam mitos-mitos dan kajian tentang SURGA Di TIMUR: yakni di bagian TERSELATAN GARIS KATULISTIWA,wilayah TIMUR, arah TENGGARA!!!

Keyakinan KRISTEN menyebut SURGA di TIMUR, sedangkan Keyakinan BUDHA menyebut SURGA di BARAT!!!, sesungguhnya DUA KEYAKINAN itu menegaskan hanya satu letak geografis yaitu TIMUR TERJAUH dan BARAT TERJAUH yakni WILAYAH MALUKU-NTT. Letak geografis ini yang oleh filsuf Plato menjelaskan dua daratan yang berhadapan (antipoda), yakni MALUKU-NTT, dan dikelililingi oleh DUA SAMUDERA: Hindia TIMUR (zamudera Pasifik) dan Hindia BARAT (Zamudera Hindia). Juga Filsuf Plato menyatakan wilayah itu dengan flora wangi2an: tertelusuri CENDANA di NTT, yang awalnya di di Kepulauan SOLOR kekinian, sedangkan CENGKEH-PALA di Maluku.

Namun para pedagang mengalihkan nama MALUKU (Mollucass) ini ke semenanjung MALAYA dengan nama MALAKA, di saat bandar perdagangan TIMUR dengan BARAT berpindah ke MALAKA setelah terbukanya JALUR SUTRA yang memungkinkan JALAN DARAT dari CINA (TIMUR) ke BARAT via MALAYA. Sedangkan sebelum terbukanya JALUR SUTRA maka hanya melalui JALUR pelayaran LAUT, yang oleh Filsuf Plato menegaskan sebagai sebuah WILAYAH YANG DAHULU MENJADI SATU-SATUNYA JALUR YANG DILALALUI/dilayari DARI TIMUR (CINA) melayari zamudera Pasifik (Hindia Timur) menuju/ turun ke MALUKU untuk ke wilayah BARAT (Jawa, India,Mesir, Afrika, Junani ) via NUSA TENGGGARA untuk menyusuri zamudera Hindia (Hindia Barat) untuk mencapai BARAT, ataupun sebaliknya!!!

Maka itu ibu kota Kabupaten Flores Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur dikenal dengan LARANTUKA=RARANTUKA=JALAN TENGAH=JALAN PERSINGGGAHAN dari Dunia BARAT ke Dunia TIMUR. Artinya bahwa WILAYAH ini (NUSA TENGGARA-MALUKU), adalah wilayah PERTEMUAN dari PERADABAN TIMUR dengan PERADABAN BARAT: wilayah AWAL MULA dalam Kitab KEJADIAN (Genesis)! Tidak berlebihan apabila wilayah lautan Pasifik yang menaungi wilayah Indonesia dikenal juga dengan Lautan Teduh. Karena Jauh sebelum daratan Eropa dapat dicapai melalui darat dari negeri Cina, maka sesungguhnya telah ada jalur dagang antara Asia Timur dengan Asia Selatan, Indonesia khususnya Negeri Kepulauan Nusa Tenggara dan Maluku. Dokumentasi Museum 1000 Moko-Kalabahi, Kepulauan Alor dapat menjadi indikatornya, yang walaupun mungkin tidak begitu tergali nilai historical dan culturnya apalagi arkeologisnya karena jalur itu adalah ‘intern’ dan sangat purba. Karena baru menjadi ‘pengetahuan’ dan ‘ekstern’ ketika bangsa Eropa menelusuri jalur tersebut dengan membaginya ke dalam kelompok kesamaan ‘metoda ilmiah penelitian’ ala ‘Jalan Sutra’ di Asia tengah ke Eropa perihal jalur perdagangan ‘Opium’.

Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara – Maluku dan Awal Penyebaran Gen

Seorang Profesor di bidang Genetika dari Oxford University bernama Stephen Oppenheimer dalam bukunya EDEN IN THE EAST, 1998 diindonesiakan SURGA DI TIMUR, 2010 menghentakan mata hati dan pikiran dunia, bahwa ketika kita melihat kepada distribusi tiga generasi maternal nenek Asia, ibu Asia Tenggara, dan motif Polinesia, lokasi kunci yang memegang ketiganya ternyata Indonesia Timur (lihat Gambar 31 tentang Sejarah Genetis Motif Polinesia, hal. 278). Versi nenek Asia yang lebih tua, dengan hanya satu substitusi tunggal, sejauh ini belum ditemukan di daerah Melanesia yang bertetangga tapi lazim di Indonesia Timur sampai perbatasan dengan Melanesia. Wilayah Nusa Tenggara dan Maluku berbeda dari Asia Tenggara lainnya dalam hal ini mempunyai tiga generasi: matriarki Asia bertumpukan di sini dengan Anak perempuan Asia Tenggara-nya dengan cucu perempuan motif Polinesia-nya dengan subtitusi tiga kali. Ini merupakan bukti lebih jauh bagi keantikan populasi.

Singkatnya model perpaduan Asia Tenggara yang diusulkan oleh penanggalan-penanggalan ketiga mutasi berurutan ini adalah sebagai berikut. Yang tertua dari varian penghapusan 9-bp Asia atau nenek Asia bisa berasal di suatu tempat di Asia sampai 60.000 tahun lalu dan mencirikan sebuah pergerakan populasi Cincin sirkum-Pasifik ke utara ke Amerika dan ke tenggara sejauh ke Maluku. Subtitusi kedua untuk memproduksi ibu Asia Tenggara terjadi di suatu tempat di Asia Tenggara, mungkin 30.000 tahun lalu, dan lalu menyebar ke seluruh Cina Selatan, Asia Tenggara (hal. 282), dan Maluku setidaknya 17.000 tahun lalu. Akhirnya subtitusi ketiga yang memproduksi motif Polinesia terjadi sekitar 17.000 tahun lalu di Indonesia Timur dan kemudian di bawa ke Pasifik oleh dua migrasi maritime berturut-turut oleh orang-orang yang mungkin menuturkan bahasa-bahasa Austronesia dari keluarga Oseanik. Yang pertama mungkin tiba di Melanesia Utara 6.000 tahun lalu, menghuni kelompok pulau Bismarck dan pesisir utara Papua Nugini, dan mungkin telah menyebar sejauh Kepulauan Salomo Utara (hal. 283)

Oppenheimer merangkum bukti dari penanda-penanda genetis Adam dan Eva bagi sebuah penyebaran timur ke barat sebagai berikut: penghapusan 9-bp Asia dibawa ke India selatan sebagai ibu Asia Tenggara, seorang wanita yang mungkin menuturkan bahasa Austronesia. Klan-klan maternal kelompok F dalam klasifikasi Antonio Torroni, yang lebih jelas tertaut kepada para penutur Austro-Asiatik di daratan Asia menyebar secara radial (menjari) ke utara ke Indo-Cina dan Tibet, ke barat yaitu India Utara…. (hal.302). .. Wilayah yang terpengaruh menyebar dalam sebuah gelombang dari Pasifik Selatan di tenggara, melalui Asia Tenggara, Cina selatan, India, Arab, Timur Tengah, dan akhirnya ke mediterania di Barat Laut (hal.303).

Tiga kesimpulan umum bisa ditarik dari penjelajahan perpustakaan tertua di dunia. Pertama, adalah bahwa penanda-penanda genetis yang telah menyebar secara radial keluar dari Asia Tenggara, dibawa oleh orang-orang yang menuturkan bahasa-bahasa Austronesia dan Austroasiatik, dua-duanya berada di wilayah pulau ini pada Zaman Es atau lebih lampau lagi. Ini bertentangan dengan pandangan konvensional tentang penyebaran Austronesia baru-baru ini keluar dari Asia melalui Filipina. Kedua, di mana pohon-pohon genetis telah dibangun bagi penanda-penanda genetis Asia Timur, termasuk yang di Tibet, populasi-populasi pribumi yang masih ditemukan di Asia Tenggara dan menuturkan baik bahasa Austro-Asiatik maupun Austronesia ditempatkan pada cabang-cabang terawal. Ketiga, penanda-penanda ini dibawa ke Timur ke Pasifik, ke barat ke India dan Timur-Tengah, ke utara ke Taiwan, Cina, Burma, dan Tibet, dan ke selatan ke Australia sejak Zaman Es terakhir (hal. 311.)

Gen-gen kita, bahasa-bahasa ibu kita, peninggalan arkeologis leluhur kita merupakan semua ciri sejarah dan prasejarah yang menarik untuk dipelajari. … seperti jejak-jejak yang lebih hidup dari sebuah masa lalu yang bermigrasi, yaitu jejak-jejak yang dibawa oleh para pedagang dan penjelajah di dalam pikiran mereka, dan bisa disampaikan dengan bebas dari satu orang ke orang lainnya, yaitu legenda dan mitos. Meskipun ceritera-ceritera hidup ini membentuk hanya satu sisi dari banyak dimensi budaya, tetapi telah menyampaikan dan menyebarkan intisari pandangan-pandangan kita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi (hal 311). Hal ini telah mengusik perhatian dan menuntun seorang Profesor di bidang Gen bernama Stephen Oppenheimer dalam memahami mengapa dua varian talasemia yang berbeda bisa berada di wilayah Papua Nugini melalui kisah mitos Dua Bersaudara Yang Berperang. Dengan sebuah legenda dan mitos bagi Oppenheimer sebagai sebuah penanda pembauran budaya, mereka juga mempunyai sebuah keantikan, kekhususan, dan tujuan yang sering tidak ditemukan dalam batu, tulang, langsi dan sisilah (hal. 312).

Kerangka kajian Oppenheimer

Pembuktian Oppenheimer bahwa:”Di sini di Indonesia Timur, ini mempunyai rasio 20% antara para penutur Austronesia maupun non-Austronesia di Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku, yaitu Alor, Flores, Hiri, Ternate dan Timor. Motif Polinesia absen lebih jauh ke barat di Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Indo-Can. Keberagaman varian motif Polinesia juga tersebar di Maluku dan Nusa Tenggara, mengusulkan para leluhur dari populasi-populasi terasing itu sebagai situs asal-usulnya”. …Martin Richards dari laboratorium Oxford University memperkirakan ulang waktu asal-usul motif pada orang-orang Indonesia Timur dan memperoleh angka sekitar 17.000 tahun lalu.Distribusi motif Polinesia tampaknya membangun semacam jembatan genetis antara wilayah linguistic Oseania ke timur dan Indonesia Timur Tengah bertutur Melayu-Polinesia ke barat, tapi juga mengusulkan sebuah titik permulaan yang berbeda dan waktu asal-usul ke kereta (baca: penyebaran, pen) Austronesia pertama ke Oseania. Motif Polinesia yang diduga dipegang oleh para wanita Austronesia datang dari Asia Daratan, dan meninggalkan Asia Tenggara 3.500 tahun lalu, malah mempunyai cap Maluku local yang berpenanggalan 17.000 tahun lalu, dan tidak ada tempat asal yang dekat di mana pun ke barat Garis Wallace, apalagi di Filipina, Taiwan, atau Cina. Tidak hanya motif Polinesia terbatas kepada wilayah-wilayah Wallacia yang tertutup sampai ujung Papua Barat, tetapi sebagaimana di Papua Nugini daratan ini menduga penanda Austronesia lagi-lagi secara seimbang tercampur kepada pulau-pulau bertutur non-Austronesia juga, maka mendukung bukti genetis bagi keantikan yang jauh lebih besar (hal.276).

Ketiadaan motif polinesia di Taiwan, Filipina, dan sebagian besar Indonesia Barat dan keantikan lokalnya sekitar 17.000 tahun lalu di Indonesia Barat adalah bukti terkuat melawan (hal.276) kereta ekpress (maksudnya:penyebaran (pen)), yang berusia 3.500 tahun lalu. Hipotesis tentang sebuah perluasan maritime Austronesia yang lebih awal ke Pasifik masih bertahan. Satu hal yang tidak diberitahukan kepada kita oleh motif Polinesia adalah di mana lokasi bertolaknya perluasan timur ke Samoa itu, apakah dari pesisir utara Papua Nugini atau sebuah migrasi segar dari Indonesia Timur. Ada gunanya melihat jawaban bagi pertanyaan ini melalui mata orang awam tapi dengan perhitungan (hal.278) yang sangat informative. Perbandingan-perbandingan rumit tentang dimensi-dimensi tengkorak telah menegaskan apa yang Kapten Cook kali pertama lihat dan dapat dilihat oleh pengunjung lainnya. Misalnya bahwa orang-orang Polinesia lebih mirip orang-orang Asia Tenggara, agak berbeda dari Melanesia, dan sama sekali tidak seperti Cina atau Aborigin Australia. Antropolog Michael Petrusewsky di University of Hawaii telah memperbaiki kajian ini pada populasi Asia dan Pasifik. Temuan-temuannya dipetakan secara grafis, menunjukan orang Polinesia dari banyak lokasi membentuk sebuah gugusan ketat mereka sendiri dengan orang-orang Micronesia dan para penghuni Pulau Admiralty (lihat gambar 32, hal.280). Gugusan ini berada di tengah-tengah antara Melanesia dan Asia Tenggara. Setiap ekstrem masing-masing diambil oleh Aborigin Australia di satu kutub dan di kutub lain ada Cina, Taiwan, dan Asia Utara. Secara signifikan, tetangga Asia yang paling mirip Polinesia adalah dari Laut Sulu di timur Borneo, dan paling tidak mirip dari semua kelompok Asia Tenggara adalah orang-orang Filipina. Di kutub lain, Melanesia terdekat adalah orang-orang Fiji (hal. 279).

Menurut Oppenheimer, bahwa deduksi pertama dari gambaran ini adalah bahwa orang-orang Polinesia tidak baru-baru ini berasal dari Melanesia, Cina, Taiwan, atau Filipina, tapi kemungkinan mereka berasal dari Sulawesi di Indonesia Timur. Orang-orang Melanesia mempunyai penanda-penanda genetis yang sama secara eksklusif dengan orang-orang Asia Tenggara dan tidak dengan Melanesia. Penanda-penanda ini lebih jauh lagi mendukung pendapat tentang sebuah penyebaran orang-orang Polinesia keluar dari sebuah populasi Indonesia Timur local (hal.279). Menempatkan semua bukti kerangka dan mtDNA bersama-sama, model yang paling sederhana bagi perluasan Polinesia akhir 3.500 tahun lalu adalah bahwa ini muncul dari sebuah populasi Indonesia Timur yang telah ada sebelumnya, bergerak dengan cepat ke timur, lewat pulau Admiralties, melewati daratan Papua Nugini Utara tapi mengambil beberapa agen Melanesia sebelum tiba di Samoa. Hal ini merupakan model yang sama menurut Oppenheimer seperti telah ditemukan dari gabungan arkeologi dan linguistic (bab 2 hal. 53-96 dan bab 5 hal. 191-244).

Sudut pandang sebuah asal-usul Indonesia Timur local berusia 17.000 tahun bagi motif Polinesia yang dibawa oleh orang, para penutur Austronesia ke Pasifik sekarang mulai membantu tersingkap misteri negeri asal Austronesia (hal. 280). Motif Polinesia tiga kali (baca: gen nenek, ibu, anak, pen), meskipun dibatasi terutama untuk para penutur Melayu-Polinesia dan Oseania, masih terhubung dengan penghausan 9-bp Asia Tenggara lainnya, tapi pada lebih dari satu pembuangan. Kajian tentang ketiga situs subtitusi ini mengungkap bahwa mereka membentuk sebuah garis maternal Asia yang berurutan. Yang pertama dari tiga substitusi ini mungkin terjadi setelah penghapusan 9-bp, dan sebelumnya terbawa ke Amerika. Perkiraan-perkiraan bagi dua peristiwa mutasi ini kembali sebanyak 60.000 tahun. Subtitusi pertama yaitu nenek Asia, adalah bentuk dominan penghapusan 9-bp di antara penduduk asli Amerika sekarang, dan tersebar luas dan lazim di seluruh Asia Tenggara. Mungkin ini berasal dari antara para leluhur orang-orang Pribumi bertutur Orang Asli Austro-Asiatik di Asia Tenggara, semuanya hari ini mempunyai jenis nenek Asia substitusi pertama, tanpa varian-varian berikutnya. Meskipun demikian, nenek Asia juga bisa telah muncul lebih jauh ke utara di sepanjang pantai Cina Selatan 60.000 tahun lalu (hal. 281).

Subtitusi pertama di keluarga ini memproduksi varian dua.Varian kedua telah menyebar ke seluruh Cina Selatan, Kepulauan Asia Tenggara, dan Oseania, bahkan India Selatan. Maka inilah yang paling luas tersebar di antara ketiga varian di Asia Tenggara. Varian kedua ini sebagai ibu Asia Tenggara. Frekuensi tertingginya adalah di antara para Pribumi Taiwan, dan atas dasar ini, digabungkan dengan keberagaman yang tinggi, sehingga seorang ahli genetika Amerika yang bernama Terry Melton mengusulkan sebuah asal-usul Taiwan bagi ibu Asia Tenggara dari leluhur maternalnya, yaitu nenek Asia Tenggara. Masalah dengan hipotesis ini adalah beberapa populasi Pribumi Taiwan, seperti Ami, tidak mempunyai bingkai nenek Asia yang mendahului (hal. 281) yang malah umum di Asia Tenggara dan seluruh Amerika. Gambaran setengah-setengah seperti itu lebih mengusulkan bahwa Taiwan adalah tempat penerima, daripada asal-usul ibu Asia Tenggara. Kelahiran ibu Asia Tenggara dari nenek Asia-nya ditempatkan pada 30,000 tahun lalu. Angka ini sangat spekulatif sesuai dengan perkiraan-perkiraan terawalnya Johanna Nichols untuk awal penyebaran-penyebaran bahasa mengelilngi Cincin Pasifik. Apa pun penanggalan asli kelahiran ibu Asia Tenggara , ini terjadi jauh sebelum tanggal yang didalilkan bagi kedatangan orang-orang Austronesia ke Taiwan dari Cina 7000 tahun lalu, maka tidak bisa digunakan sebagai argument untuk jalur itu.

Penemuan Homo Floresiensis

Sehubungan dengan kajian Oppenheimer yang menempatkan wilayah Nusa Tenggara-Maluku sebagai lokasi awal penyebaran gen/turunan manusia di dunia, maka para ilmuwan telah menemukan fosil-fosil tengkorak dari suatu spesies manusia yang tumbuh tidak lebih besar dari kanak-kanak berusia lima tahun di goa di Flores, Indonesia. Manusia kerdil yang memiliki tengkorak seukuran buah jeruk ini diduga hidup 13.000 tahun lalu. Penemunya adalah ilmuwan-ilmuwan Indonesia dan Australia. Para ilmuwan yakin tengkorak yang mereka temukan ini berasal dari spesies manusia yang benar-benar baru bagi dunia ilmu pengetahuan.

Tengkorak pertama dari spesies yang kemudian disebut sebagai Homo Floresiensis atau Manusia Fores itu ditemukan September 2003. Ia berjenis kelamin perempuan, tingginya saat berdiri tegak kira-kira satu meter, dan beratnya hanya 25 kilogram. Ia diduga berumur sekitar 30 tahun saat meninggal 18.000 tahun lalu.Tengkorak dan tulang belulangnya ditemukan dalam sebuah lokasi endapan di goa Liang Bua, dimana dijumpai pula beberapa peralatan batu dan tulang belulang gajah kerdil, hewan-hewan pengerat sebesar anjing, kura-kura raksasa, dan tulang Komodo. Perbandingan ukuran tengkorak Homo floresiensis dengan tengkorak manusia modern, Homo sapiens. Karena ukurannya, Homo floresienses dianggap sebagai penemuan paling spektakuler dalam dunia paleoanthropology sejak setengah abad ini, dan dilukiskan sebagai spesies manusia paling ekstrim yang pernah ditemukan.

Mereka tinggal di Flores sekitar 13.000 tahun lalu, yang artinya mereka ada saat manusia modern (Homo sapiens) juga ada. “Menemukan makhluk yang berjalan dengan dua kaki dan berotak kecil pada periode waktu dimana manusia modern telah eksis adalah sesuatu yang amat menakjubkan,” kata Peter Brown, seorang paleoanthropologis dari Universitas New England di New South Wales, Australia. “Penemuan ini benar-benar tidak disangka,” kata Chris Stringer, direktur program Human Origins di Museum Natural History, London. “Menemukan manusia purba di Flores saja sudah hebat. Bahwa mereka berukuran hanya satu meter dan memiliki otak seperti otak simpanse adalah hal yang lebih menakjubkan. Dan fakta keberadaan mereka yang hidup 20.000 tahun lalu, dimana nenek moyang manusia modern mungkin pernah bertemu mereka adalah hal yang sungguh-sungguh luar biasa.”

Para peneliti memperkirakan orang-orang kerdil ini hidup di Flores sejak sekitar 95.000 tahun lalu hingga setidaknya 13.000 tahun lalu. Mereka mendasarkan teori ini atas perhitungan karbon terhadap tulang belulang dan peralatan batu yang ditemukan bersama fosil. Orang-orang kerdil ini mungkin bangsa pemburu karena ditemukan pula bilah-bilah pisau batu, ujung panah atau tombak, serta peralatan memotong lain. Penemuan ini menunjukkan bahwa genus Homo ternyata lebih bervariasi dan lebih luwes dalam kemampuan adaptasinya dibanding perkiraan semula. Genus Homo sendiri termasuk di dalamnya adalah manusia modern (Homo sapiens), Homo erectus, Homo habilis, dan Neandertals, memiliki ciri-ciri adanya rongga otak yang relatif besar, posturnya tegak, dan mampu membuat peralatan.

“Homo floresiensis adalah tambahan bagi daftar spesies manusia yang hidup pada waktu bersamaan dengan manusia modern. Walau tubuhnya lebih kecil, otaknya lebih mungil, dan mempunyai anatomi tubuh yang merupakan perpaduan primitif dan modern, spesies ini tetap dimasukkan dalam genus Homo. Para peneliti menduga orang-orang kerdil ini berevolusi dari ukuran manusia normal, yakni dari populasi Homo erectus yang mencapai Flores sekitar 840.000 tahun lalu. “Secara fisik mereka berukuran sama dengan anak-anak manusia modern berusia tiga tahunan, namun dengan rongga otak hanya sepertiganya,” kata Richard Roberts, seorang geochronologist dari Universitas Wollongong, Australia. “Mereka memiliki lengan lebih panjang, tulang alis lebih tebal, dahi yang miring, dan tidak mempunyai dagu”. Rahang bawahnya diisi gigi-gigi besar tumpul seperti gigi Australopithecus, manusia purba yang hidup di Afrika lebih dari tiga juta (3.000.000) tahun lalu. Gigi depannya lebih kecil seperti gigi manusia modern. Lobang mata manusia Flores ini besar dan bulat, dan tulang pinggulnya tampak primitif, mirip bangsa kera. Walau secara keseluruhan tidak terlihat seperti manusia modern, beberapa perilaku mereka sungguh mirip manusia.

Orang-orang Flores ini menggunakan api dalam perapian untuk memasak. Mereka juga berburu stegodon, sejenis gajah kerdil primitif yang hidup di sana. Walau kerdil, seekor stegodon bisa mencapai berat 1.000 kilogram, dan pasti merupakan tantangan besar bagi pemburu-pemburu dengan ukuran tubuh seperti anak-anak. Artinya perburuan haruslah dilakukan dengan komunikasi efektif dan perencanaan, kata para peneliti. Hampir seluruh fosil stegodon yang berkaitan dengan manusia kerdil itu berasal dari hewan muda, menunjukkan bahwa orang-orang itu memilih untuk memburu stegodon kecil. Dari fosil yang dijumpai, makanan orang-orang Flores itu termasuk ikan, katak, ular, kura-kura, burung, dan hewan-hewan pengerat.

Mereka itu bukanlah jenis yang bodoh karena berhasil bertahan berdampingan dengan jenis kita setidaknya selama 30.000 tahun tanpa kita sadari. Mereka juga bisa membuat beberapa peralatan batu, memburu gajah pigmi, dan menyeberangi setidaknya dua laut untuk mencapai Flores dari Asia. Dan uniknya dengan otak yang hanya sepertiga otak kita. Namun mereka, bersama dengan gajah-gajah kerdil punah akibat letusan gunung api besar.

Pikiran Konklusif

Tentu sebelum kajian Oppenheimer mengenai penyebaran awal manusia, maka Garis Wallace-Weber yang disempurnahkan oleh Thomas Huxley, telah menegaskan dunia purba flora-fauna. Poros-nya di wilayah yang dibuktikan Oppenheimer itu. Berikut kajian F.A.E. van Woden 1935 dari universitas Leiden, Negeri Belanda, dalam disertasinya “SOCIALE STRUCTURTYPEN IN DE GROOTE OOST” 1935, diindonesiakan “KLEN, MITOS, DAN KEKUASAAN, Struktur Sosial Indonesia Bagian Timur” 1985, menunjuk praktek budaya chemistry (keharmonisan/dialektika) itu di wilayah Nusa Tenggara-Maluku: dalam Konsep DUALISME KOSMOS (langit-bumi/Peradaban) dan DUALISME SOSIAL (Manusia Perempuan-Laki/Kebudayaan). Dipraktekan sampai sekarang di kepulauan Solor (Solor=Matahari): Adonara-solor-Lembata, juga di pulau Flores bagian Timur (LAMAHOLOT) dengan sebutan LEWOTANAH. Persilangan Peradaban (Dualisme Kosmos: Matahari-Bulan/Rera-Wulan dengan Bumi/Tanah-Ekan) dengan Kebudayaan (Dualisme Sosial: Perempuan-Laki)=SALIB=LEWOTANAH.

Artinya saya mau katakan bahwa Flora-Fauna, Manusia AWAL MULA dari Kepulauan Matahari (Solor) Purba: Nusa Tenggara (minus Bali)-Maluku. Dari sana pula asal-usul budaya chemistry itu. Kalau Wallace-Weber membuktikan melalui penyebaran Fauna-Flora, maka Oppenheimer membuktikan dengan penyebaran awal GEN manusia Asli, juga bahasa Austronesia sebagai sumber bahasa dunia, dengan berbagai bukti arkeologis yang ditunjuk dalam bukunya SURGA DI TIMUR itu.

Ciri khusus flora yang menandai wilayah taman eden yang hilang seperti disebut filsuf Plato, Wangi-wangian (Cendana-Cengkeh-Pala) memang di wilayah ini. Keunikan flora ini telah menjadi perselisihan bangsa Eropa (Spanyol-Portugal) yang harus dilerai/mediasi oleh Vatikan (baca CATATAN-ku di wall FB-ku tentang CENDANA,CENGKEH-PALA—dstnya”). Begitupun ciri fauna yang disyaratkan Plato, seperti Gajah (penemuan fosil gajah purba di Flores), jugaGADING gajah itu sampai kini menjadi belis (mas kawin) pada masyarakat Lamaholot pada umumnya (pulau Flores bagian Timur, Adonara, Solor, Lembata), khususnya masyarakat Pulau Adonara. Sedangkan secara geologis, maka geografi Nusa Tenggara-Maluku kekinian merupakan daratan baru (listofer) dari benua yang hilang (Atlantis) itu. Dapat dijelaskan melalui teori pergeseran benua dan dialektika geologi (CATATAN-ku: DIALEKTIKA GEOLOGI NUSA TENGGARA MALUKU…dstnya”.

. Dengan demikian kalau ditandaskan garis Wallace-Weber bahwa Wilayah Poros sebagai wilayah pembagi, dalam pemaknaan Fauna-Flora yang ada di Poros, dapat ke Dataran Sunda (BARAT), juga ke Dataran Sahul (TIMUR). Sedangkan di wilayah BARAT tidak mungkin ke TIMUR, dan sebaliknya. Maka Oppenheimer membuktikan penyebaran manusia dari wilayah Poros (Nusa Tenggara-Maluku) itu melalui kajian GEN orang Asli dan penyebaran Bahasa Austronesia (ke Timur, Barat, Utara, selatan) secara rinci: Utara itu ke Cina melalui Sulawesi dan Sabah, Selatan ke Australia (Aborigin), Timur ke Papua dan Pasifik, Barat ke Jawa (Jawa Purba itu satu daratan dengan Kalimantan-Sumatra-Semananjung Malaya) terus ke India-Mesir- Yunani. Tadi ke Cina itu kelak ke Jepang, juga melalui selat Bering yang dulu masih daratan dengan Amerika akan sampai di Amerika.

Penyebaran yang dikaji Oppenheimer itu lebih menjelaskan kerangka diaspora di saat pemecahan massa benua 3 (kepunahan massal 1) yang mengakhiri Zaman Mesozoikum. Sedangkan menjadi lebih rinci ditunjuk Arysio Santos dalam buku “ATLANTIS THE LOST CONTINENT FINALLY FOUND”, 1997 diindonesiakan “INDONESIA TERNYATA TEMPAT LAHIR PERADABAN DUNIA”, 2009 itu, sesungguhnya menjelaskan diaspora saat akhir zaman Neozikum/akhir Zaman Es (kepunahan massal 2). Walaupun Arysio Santos menunjuk SURGA DI TIMUR itu di paparan Sunda antara Jawa-Kalimantan-Sumatra. Namun yang terpenting di sini rincian penjelasannya tentang penyebaran manusia setelah akhir zaman es (banjir nabi Nuh) itu untuk membantu pemahaman atas kajian Oppenheimer. Sehingga kalau ke UTARA itu menjadi peradaban CINA, ke BARAT menjadi Peradaban INDIA. Kemudian bergeser ke MESIR (piramida), .ke YUNANI menjadi FILSAFAT (LOGIKA, ETIKA, ESTETIKA), ke ROMAWI menjadi SALIB KRISTEN, ke ARAB menjadi BULAN-BINTANG ISLAM. Kemudian melalui AGAMA moderen sebagai pintu gerbang MODERNISASI. maka tampil ILMU PENGETAHUAN seolah-olah AWAL MULA dari PERADABAN & KEBUDAYAAN itu dari BARAT.

Jadi sesungguhnya REVOLUSI NEOLITIKUM yang memperangah dunia waktu itu dan sampai sekarang, dengan berbagai kemajuan di Cina, India, Mesir, Yunani, dsb, datang dari POROS (Timur terjauh-Barat terjauh). Sampai sekarang masih menjadi MISTERI tentang bagaimana terjadi revolusi neolitikum itu, kemajuan sedemikan gemilang waktu itu, yang terus mengilhami berbagai kemajuan sampai kekinian dan tentu akan datang nanti itu, bagaimana dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan?. Sampai-sampai Karl Marx frustasi dengan filsafat materialisme-nya itu, lalu menuding revolusi neolitikum sebagai revolusi tukang SIHIR. Maka itu penemuan homo floresiensis sesungguhnya juga menjelaskan titik poros yang memediasi misteri penjelasan manusia Raksasa dengan Manusia Kerdil atau manusia Purba dengan Manusia Moderen. Karena adanya bencana (kepunahan massal 1 dan 2) di akhir zaman mesozoikum dan di akhir zaman neozoikum/akhir zaman es menyebabkan manusia, flora, fauna yang selamat menyebar ke berbagai penjuru muka bumi saat itu. Namun dapat terpahami dan termaklumi dalam filsafat purba poros (Solor) dengan simbol ular sebagai matahari purba: “Koten pana doan, Ikung gawe lela naan nuan tutu, nahku nuan tou geniku uliten-empatan muren te Tukak-tukan”, artinya “menyebar sampai jauh ke barat dan bergerak terus sampai ke timur untuk menjadi saksi zaman, namun tetap suatu saat selalu kembali ke poros/sumber”.

Renungkan!!!…bukan saja Karl Marx yang frustasi, begitupun Hegel dengan filsafat Idealisme-nya tidak mampu menjelaskan hal itu. Tidak sampai para filsuf itu saja, melainkan TUHAN-pun frustasi, sampai-sampai merusakan bahasa (komunikasi) di antara mereka saat mereka membangun menara babel untuk menyamai TUHAN. Apa kata TUHAN: “…mulai sekarang apa yang mereka rencanakan dan lakukan pasti berhasil, maka harus hentikanlah mereka” !!! Artinya kalau itu revolusi (menara babel) demi kemuliaan Tuhan dan kemanusiaan Manusia, tentu TUHAN tidak menghentikan. Namun karena kecongkakan mereka untuk menyamai atau melebihi TUHAN, dalam upaya mereka membangun menara babel itu yang menjadi persolan (Genesis 11:1-9).

Filsuf Hegel dengan filsafat kritisnya dalam bukunya Filsafat Sejarah, telah membedah filosofi kehidupan sebagai sebuah Roh (Sabda). Hanya Hegel mampu sebatas menegaskan bahwa hidup kehidupan dimulai dari Roh yang Idealisme (PIKIRAN), sebagai yang awal (tesis). Dikoreksi oleh Karl Marx (antitesis), bahwa hidup kehidupan dimulai dari Roh yang nyata (Materialisme). Tesis Hegel selanjutnya dikenal sebagai filsafat Idealisme, antitesis Marx di kenal sebagai filsafat Materialisme. Memahami hidup kehidupan (di Poros Bumi) Kepulauan Matahari (Solor) Purba (Maluku-Sulawesi-Nusa tenggara), maka tercermarti Filsafat Hegel ini sebagai Taran Wanan (tesis)/Filsafat Barat, sedangkan filsafat Marx ini sebagai Taran Neki (antitesis) Filsafat Timur. Sedangkan Filsafat Solor Purba (PANCASILA) sebagai sintesa merupakan Filsafat Poros, terilham dalam diri putra fajar Bung Karno sewaktu pengasingan di Ende-Flores.

Filsafat Poros mendamaikan/menselaraskan/menserasikan filsafat Barat (Hegel) dengan filsafat Timur (Marx):KODA/SABDA. Maka ada pendapat, bahwa orang cina (Filsafat Timur) untuk kekayaan materi, orang barat untuk kehebatan pikiran(Filsafat Barat), sedangkan orang lamaholot kekayaan nurani, atadiken (manusia). Atau filsuf Plato dengan filsafat DUA DUNIA-nya (Dunia JIWA/Hegel dan Dunia Badan-Raga/Marx. Maka menyatukan JIWA dengan BADAN itu adalah : ROH/Pancasila-Bung Karno. Orang Timur (CINA) boleh mempunyai kekuasaan materi (raga/badan), orang Barat boleh hebat (kaya) pikiran (jiwa), tetapi orang Lamaholot/Solor Purba mempunyai keagungan NURANI/ROH (kemanusiaan) yang menyatukan JIWA dengan BADAN. Filsafat BARAT/tesis, Filsafat TIMUR/antitesis, Filsafat POROS (PANCASILA/KODA) sebagai sintesa.

Kalau cermati dialektika berfilsafat ini, maka memang MANUSIA itu berawal dari POROS (Nurani), menyebar ke BARAT yang lebih mengutamakan pikiran, dan menyebar ke TIMUR yang lebih mengutamakan Raga/materi: nyata. Artinya konflik antara BARAT/tesis dengan TIMUR/antitesis, maka sintesa itu di POROS. Maka bukan berlebihan secara keyakinan kalau ada yang berseloroh bahwa konfik di Timur Tengan antara PALESTINA dengan YAHUDI hanya bisa selesai/damai secara tuntas kalau dengan cara/ritus Solor (Matahari) Purba:Nusa Tenggara-Maluku, yang sampai kini dipraktekan di LAMAHOLOT, yang dikenal dengan LEWOTANAH. Seloroh yang demikian tentu sebagai orang yang mengetahui dan meyakini bahwa SALIB KRISTUS itu sesungguhnya REPLIKA dari SALIB ATLANTIS, maka setelah terselesaikan/damai dengan cara Lamaholot, tentu dengan cara KRISTUS sebagai penyelamat/pendamai ABADI. Maka itu harus berdoa dengan sungguh-sungguh sesuai pola keyakinan kepada YESUS KRISTUS supaya perdamaian menjadi nyata di bumi maupun di akhirat, bagi setiap orang berpemeluk AGAMA apa saja !!!. Karena Kristus datang bukan membawa salah satu agama melainkan membawa TERANG untuk semua agama. Jadi Kristus sendiri datang ke dunia tidak pernah memprokamirkan diri membawa agama melainkan membawa terang.

Diharapkan ke depan generasi baru bangsa Indonesia yang menselaras-serasikan keagungan bathin dan kekayaan materi/jasmani, agar tidak terjebak dalam kegelapan duniawi!!! Bathin yang agung dan kelimpahan materi saling dialektik-integralistik-sinergik supaya mencahaya-terangkan kekaya-rayaan bangsa ini demi pencapain kesejahteraan bersama bathiniah-lahiriah seluruh rakyat Indonesia!!!***

Wednesday, November 7, 2012

wangsit siliwangi

 wangsit siliwangi
Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.
Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!
Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!
Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!
Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!
Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.
Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.
Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.
Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!
Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.
Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.
Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.
Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan............................. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.
Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.
Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!
Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.
Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!
Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.
Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!
Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!


persi indonesia 
“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.” Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat! Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi! Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang! Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu (orang asing), banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah! Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara. Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah / kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah / kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi. Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan. Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah! Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi. Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi… ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang. Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran. Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah. Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger. Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan. Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan. Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa. Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné! Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala keturunanku. Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!