Monday, October 15, 2012

ajaran leluhur bangsa nusantara


AJARAN LELUHUR BANGSA NUSANTARA
Budaya adalah kekuatan (daya) dari jiwa dan rohnya (budi) atau hasil, produk dari jiwa dan rohnya (budi). Budi (Jerman, Geist) inilah yang membedakan manusia dengan binatang, yang dengannya manusia mengatasi Alam dan menciptakan entitas-entitas baru, yang disebut budaya (Inggris,culture). Pemaknaan budaya sebagai culture yang dilakukan Sutan Takdir Alisyahbana (STA) merupakan reduksi makna budaya. Walaupun pada mulanya Takdir menggunakan Geist dan Buddha untuk memaknai budi, tetapi akhirnya pemaknaan itu jatuh hancur saat ia memaknai budaya sebagaiculture. Jika STA mau konsisten, seharusnya ia memaknai budaya dengan makna yang berkaitan erat dengan budi dari Geist dan Buddha. Dalam tradisi Buddhisme, jiwa dan ruh manusia (budi) berhubungan dengan kesakralan, bukannya keprofanan, sebagaimana yang hendak diusung oleh STA. STA menggunakan konsep budi dan daya untuk menggolkan program modernisasinya yang sekuler.

“Kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”… kebudayaan menurut hemat saya antara lain berarti: keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu, maka istilah “kebudayaan” memang suatu istilah yang amat cocok. Adapun istilah Inggerisnya berasal dari kata Latin colere, yang berarti “mengolah, mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture, sebagai segala daya dan usaha manusia untuk merobah alam.
Budaya berasal kata dari buddhi, sementara buddhi dimaknai sebagai akal. Jadi, budaya adalah keseluruhan dari hasil akal dan karyanya, yang dihasilkannya lewat proses belajar. Budaya dikaitkan erat-erat dengan pendidikan di sini: transfer sesuatu kepada generasi baru lewat proses belajar. Namun, lagi-lagi, Koentjaraningrat menghubungkan makna budaya ini dengan culture, sehingga akal manusia selalu dikait-kaitkan dengan penggunaannya untuk mengolah Alam, mengubah Alam, mengeksploitasi Alam.
Untuk mengembalikan makna sakral budaya dari lingkaran makna profannya ini, kita harus merujukkannya lebih dulu pada makna sakral budi, karena makna sakral budilah yang mendasari makna sakral budaya. Makna sakral dari budi dapat ditemukan dalam tradisi sastra spiritual asli kita dengan sebutan ‘Sastra Suluk’. Dalam Serat Centhini, kita menemukan definisi budi yang sangat sakral:
Budi, dalam Serat Centhini, dimaknai sebagai manifestasi Wujud Ilahi yang memperantarai WujudNya yang non-existent dengan Wujudnya yang existent. Budi adalah ‘Yang Ilahi’-sebagai-Ide, dan sebagai Budi, maka ‘Yang Ilahi’ berwujud sebagai Ide-Ide, Pengetahuan-Pengetahuan, tapi sekaligus juga ‘Yang Mengetahui’. Yang Ilahi sebagai Yang Maha Tahu masih belum memisahkan diriNya dari Pengetahuannya. Orang yang amat menyadari bahwa Budi adalah manifestasi Ilahi disebut orang Jawa ‘ahli ing budi binudi kang budiman’, ‘orang budiman’. Budi dalam pengertian sakral ini adalah serupa dengan pengertian the Intellect.
Jika Budi telah dipahami dengan makna aslinya yang sakral, maka implikasinya terhadap makna Budaya sangat signifikan. Budaya, dalam makna sakralnya yang terkait dengan makna sakral Budi, berarti segala ciptaan manusia yang memanifestasikan Yang Ilahi. Budaya berarti peradaban spiritual-sakral yang memanifestasikan Sang Sakral di bumi, yang mengimanenkan Sang Transenden. Dengan makna sakral ini, nampaklah perbedaan antara makna budaya yang profan dan yang sakral. Bahwa budaya kini dimaknai dengan makna profan, mendorong kita yang sudah dari sononya berperadaban spiritual untuk ‘memungut kembali’ makna spiritualnya, sehingga makna budaya tidak direduksi dan dimanipulasi Modernisme dengan semata-mata makna profannya saja.
Kebudayaan menurut hemat saya antara lain berarti: keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu, maka istilah “kebudayaan” memang suatu istilah yang amat cocok. Adapun istilah Inggerisnya berasal dari kata Latin colere, yang berarti “mengolah, mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture…
Perbedaan antara adat dan kebudayaan itu adalah soal lain, dan bersangkutan dengan konsepsi bahwa kebudayaan itu mempunyai tiga wujud, ialah: (1) wujud ideel; (2) wujud kelakuan; dan (3) wujud fisik. Adat adalah wujud ideel dari kebudayaan. Secara lengkap wujud itu dapat kita sebut adat tata kelakuan, karena adat itu berfungsi sebagai pengatur kelakuan. Suatu contoh dari adat ialah: aturan sopan santun untuk memberi selembaran uang kepada seseorang yang mengadakan pesta kondangan. Adat dapat dibagi lebih khusus dalam empat tingkatan, ialah (i) tingkat nilai budaya, (ii) tingkat norma-norma, (iii) tingkat hukum, (iv) tingkat aturan khusus.
Di Arab kata Adat yaitu al-`âdat, yang berarti ‘sesuatu yang dilakukan berkali-kali dan terus menerus’ atau ‘sesuatu yang selalu dilakukan kembali’. Sedangkan kata al-`âdat itu sendiri merupakan derivasi dari kata kerja `âda-ya`ûdu (pulang kembali ke tempat sebelumnya) dan dari kata benda al-`ûdu(kepulangan atau cara kuno). Kata ini dipinjam oleh masyarakat asli bersamaan dengan pengislaman mereka oleh penyebar-penyebar Islam. Ketika mazhab yurisprudensi Syafi’iyyah dianut oleh Muslim-Indonesia, maka kata al-`âdat yang semula bermakna semantik, berubah ke makna terminologis. Menurut mazhab Syafi’iyyah, ‘al-`âdat muhakkamah’ (kebiasaan setempat merupakan sumber pertimbangan hukum Islam). Jadi, sejak saat itu, seluruh kebiasaan lokal dalam pandangan hukum Islam disebut al-`âdat, yang sesuaikan penyebutannya oleh lidah masyarakat asli juga sebagai Adat.
Adat sebenar adat ialah adat yang tidak berubah oleh kondisi dan situasi apapun, karena berasal dari Yang Ilahi. Sedangkan dua jenis adat yang lainnya dapat berubah, karena dibuat untuk kepentingan sementara oleh pemimpin suku atau hasil musyawarah masyarakat itu sendiri.
Komunikasi dan penyatuan dengan Yang Sakral yang merupakan inti segala, manifestasi adatlah yang menyebabkan adat jadi abadi. ‘Adat Abadi’ ini sungguh identik dengan apa yang disebut filsuf Perennialisme sebagaiPhilosophia Perennis (Kebijaksanaan Abadi) atau Religio Perennis (Agama Abadi) atau the Tradition (Tradisi Abadi). Adat, bersama-sama dengan seluruh tradisi spiritual-sakral yang pernah ada di dunia ini, berintikan ajaran spiritual-sakral yang serupa dan tunggal: komunikasi dan penyatuan dengan Yang Ilahi. ‘Adat Abadi’ ini bukanlah ciptaan leluhur, tapi ciptaan Leluhur Abadi kita, yang disebut dengan beribu nama (Tuhan, Lowalangi, Deus, Theo, Tiwaz, Pater, Allah, dan lain-lain) tapi merujuk pada Kenyataan Nan Tunggal. Adat Perennis senantiasa ada di manapun, kapan pun, bagaimana pun, apapun manifestasinya 

filosofi Sastra Jen Ra Hayu ning Rat Pangruwat ing Diyu (sesajen)

SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU

oleh LQ Hendrawan pada 15 Oktober 2012 pukul 11:49 ·


RANGKUMAN
------------------
Sampurasun

Agar mudah dipahami, saya mengumpamakan bahwa LANGIT / AKASA itu ibarat KERTAS HITAM KOSONG, lalu Yang Maha Kuasa mencorat-coret langit dengan berbagai SINAR yang BERCAHAYA, dan kelak leluhur bangsa kita menyebut semua itu sebagai TATA-SURYA. Kesatuan seluruh Tata-Surya dengan segala pola watak kehidupannya disebut sebagai JAGAT AGUNG atau Jagat Raya... ya termasuk planet Bumi tempat tinggal kita (tumbuhan, satwa, manusia, dll.)

Jadi singkatnya kita bagi 3 saja :
1. Langit yang hitam pekat diupamakan sebagai "kertas kosong".
2. Galaxy / gugusan bintang-bintang dgn segala isinya diupamakan sebagai "tulisan / coretan".
3. Pola watak dari kesatuan semesta kehidupan diupamakan sebagai "nilai ungkap / makna ciptaan / daya kehidupan".

Berdasarkan 'pola' tersebut di atas, tentu kita sepakat bahwa Yang Maha Kuasa telah menciptakan suatu maha karya SASTRA di Jagat Agung ini dalam berbagai rupa, bentuk, watak, warna, ukuran, waktu, dsb. yg mustahil dapat kita sebutkan satu-persatu.

Hal tersebut ditiru oleh manusia, maka lahirlah "sastrawan" yang melakukan sebuah usaha untuk menciptakan (*cipta = pikir) karya-karya dalam bentuk tulisan melalui susunan aksara dgn maksud untuk "mengungkapkan keindahan di Jagat Agung".... Tentu saja begitu, sebab manusia tidak mampu membuat "benda hidup bernyawa dan berwatak". Kelak di jaman modern lahirlah berbagai jenis karya sastra, seperti; Sastra Tulis, Sastra Bunyi, Sastra Gerak, Sastra Gambar, dsb. yg semuanya berwatak IMITASI / TIRUAN / METAFORA / PALSU...dst. ............dengan demikian segala yang berupa TULISAN (*susunan aksara) SUDAH PASTI ASLI BUATAN MANUSIA... sebab Tuhan tidak pernah membuat "aksara".

Segala KARYA SASTRA hasil daya cipta YANG MAHA KUASA itulah sesungguhnya yang layak disebut sebagai KITAB SUCI, yang benar-benar hidup dan memberikan kehidupan bagi semesta, serta suci dari segala kebohongan dan sama-sekali tidak ada cacat-celanya... KITAB SUCI itulah yang seharusnya DIBACA dan dipahami dengan sebenar-benarnya, sebab SEGALA HASIL DAYA CIPTA YANG MAHA KUASA ITU SAMA SEKALI TIDAK ADA YANG SAMA... tapi manusia lebih memuja dan menghormati KITAB YANG GAMPANG DISOBEK dan MUDAH DIMUSNAHKAN... pun mudah diselewengkan... pun diperbanyak oleh penerbit dan percetakan... :)

SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU yg dikenal saat ini pada mulanya berasal dari kata :
1. Su-Astra Aji Ra Hayu ning Rat Pangruwat ing Diyu (*...... lalu berobah menjadi....)
2. Sastra Ajian Ra Hayu ning Rat Pangruwat ing Diyu (*...... lalu berobah menjadi....)
3. Sastra Jen Ra Hayu ning Rat Pangruwat ing Diyu (*...... lalu berobah menjadi....)
4. Sastra Jenra Hayu ning Rat (*...... lalu berobah menjadi....)
5. Sastra Jenra (*...... lalu berobah menjadi....)
6. Sasajen (*...... lalu berobah menjadi....)
7. Sajen... (*istilah ini lebih kita kenal pada saat sekarang)

Bila kita kaji berdasarkan yang pertama (no. 1) sebagai wiwitannya hal itu mengandung arti sebagai berikut :
1. SU-ASTRA = CAHAYA SEJATI = ...setara dgn ILMU PENGETAHUAN.
2. AJI / AJIAN / JEN = ...sesuatu yang harus dimengerti dan dipahami hingga sari-patinya.
3. RA HAYU = ... Sinar / Penerang Selamat dan Sejahtera.
4. NING RAT = ...bagi Jagat Semesta.
5. PANGRUWAT = ...untuk memunahkan / menghapus / menghilangkan / menghindari
6. ING DIYU = ...kebodohan / ketidak-tahuan / keragu-raguan / kebingungan / kemang-mangan / ketidak-yakinan.

Maka jelas, bahwa Sastra Jen Rahayu ning Rat Pangruwat ing Diyu itu jika diterjemahkan (bebas) akan mengandung makna sebagai berikut :
" ILMU PENGETAHUAN YANG HARUS DIMENGERTI & DIPAHAMI agar SELAMAT SEJAHTERA BAGI JAGAT SEMESTA KEHIDUPAN UNTUK MEMUNAHKAN KEBODOHAN ".
........atau........
" TULISAN yang YANG MAHA KUASA yang HARUS DIMENGERTI & DIPAHAMI agar menjadi PENERANG, SELAMAT & SEJAHTERA BAGI KEHIDUPAN DI JAGAT RAYA agar TERHINDAR DARI KEBODOHAN "

SESAJEN (Sastra Jen Rahayu ning Rat Pangruwat ing Diyu), merupakan karya SASTRA hasil karya daya cipta para leluhur bangsa kita yang TIDAK MEMPERGUNAKAN AKSARA, melainkan dengan cara "meminjam" karya SASTRA hasil daya cipta YANG MAHA KUASA untuk berbicara / menyampaikan pesan (berkomunikasi) kepada segala lapis kehidupan di Jagat Agung (multi dimensi). Hal ini tentu saja dilakukan karena KESADARAN bahwa; LIDAH MANUSIA terlalu kecil untuk "berbicara" kepada Jagat Agung (*apalagi kepada Yang Maha Kuasa), dan itu artinya para leluhur bangsa kita sangat memahami bahwa bahasa LISAN ataupun TULISAN (aksara) senyatanya TIDAK DAPAT MEWAKILI REALITAS APAPUN... dengan demikian PUNAHLAH KESOMBONGAN MANUSIA....

Tentu kita semua sepakat, bahwa hingga hari ini tidak ada satu orang manusiapun yang mampu membuat: sebutir padi , setangkai bunga, setetes air, seberkas api, sebutir garam, dst." .... dilain pihak "bahasa" yang dipergunakan dapat dipahami oleh berbagai kalangan : tua-muda, laki-perempuan, berbagai bangsa... misalnya : GULA, setiap bangsa punya sebutan yg berbeda, namun semua dapat merasakan RASA YANG SAMA... dilain pihak RASA MANIS itu hingga hari ini belum ada yang mampu membahasakannya dgn tepat dan benar... ia begitu "apa adanya".

Pada dasarnya Sesajen berisi 4 unsur bahasa utama yaitu; API - UDARA - AIR - dan TANAH, lalu ditambah dengan berbagai rupa silib-siloka yang terdiri dari benda-benda alam... yang jelas kesemua itu sama sekali BUKAN HASIL DAYA CIPTA MANUSIA... MANUSIA HANYA MENYUSUNNYA...!!! (*ya seperti susunan aksara menjadi kata, dan seperti susunan kata menjadi kalimat...dst.)

Berdasarkan atas KESADARAN TERTINGGI, bahwa Jagat Agung ini terdiri dari berbagai mahluk, bahwa kehidupan ini mimiliki ruang dan waktu serta kejadiannya masing-masing, bahwa alam semesta itu sangat luas, bahwa rasa itu tidak terjabarkan, bahwa keindahan itu ada dengan sendirinya...dst. maka diperlukan suatu alat (media) yg dapat dimengerti dan dipahami secara multi dimensi untuk saling berbicara... untuk saling bersaudara... untuk saling menjaga keselamatan dan saling mensejahterakan, saling mengasihi dalam damai....

Berdasarkan atas KESADARAN TERTINGGI, bahwa manusia itu BODOH dan SOMBONG... bahwa otak dan daya cipta serta LIDAH MANUSIA untuk berbicara itu sangat penuh keterbatasan / banyak salah / banyak perbedaan maka dibuatlah sebuah karya sastra (*mini) yang dapat dimengerti dan dipahami oleh SEGALA MAHLUK DISEGALA RUANG DAN WAKTU... dan kelak bangsa kita menyebutnya sebagai SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU... maka dengan selayaknya ia didudukan sebagai IBU DARI SEGALA BAHASA (*BAHASA IBU).

Sastra Jen Rahayu ning Rat Pangruwat ing Diyu adalah karya sastra (kitab suci) bangsa yang mempergunakan HURUP (bukan "aksara") -- HIRUP, HURIP, HURUP yang diperoleh dari hasil daya cipta Yang Maha Kuasa di Jagat Agung (jagat raya)... oleh seba itu " BACALAH...!!! "

CATATAN :
------------
Jika anda membuat karya SASTRA (Sastra Jen Rahayu ning Rat Pangruwat ing Diyu) atau SAJEN... susun dan tempatkan ditempat yang layak dan sebaik mungkin, sebab karya sastra yang anda buat itu dipinjam dari maha karya YANG MAHA KUASA... jadi jangan direndahkan dan tidak boleh disepelekan... artinya, JANGAN MERENDAHKAN DIRI ANDA SENDIRI DI HADAPAN JAGAT RAYA & YANG MAHA PENCIPTA... _/|\_

KESIMPULAN :
-----------------
SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU adalah penanda BANGSA YANG MENGERTI & MEMAHAMI KESUSASTRAAN TINGKAT TINGGI... DAN MELAMBANGKAN TINGKAT KECERDASAN, KEBUDAYAAN DAN KEBERADABAN SUATU BANGSA...!


Semoga catatan ini berguna bagi bangsa yang sedang kehilangan KEBERADABAN DIRINYA.

Tabe Pun,
_/|\_
Rahayu Sagung Dumadi

Sunday, October 14, 2012

kinanti


KINANTI (Pesan di Akhir Jaman / Jaman Kegelapan / Kaliyuga)

oleh sang maha guru abah uci( LQ Hendrawan ) pada 9 Oktober 2012 pukul 9:58 ·



Sampurasun.
Mungkin anda yg tinggal di Jawa Barat pernah mendengar istilah pupuh "KINANTI" yang berisi pesan sebagai berikut :

  BUDAK LEUTIK BISA NGAPUNG -- (anak kecil yg dapat terbang)
  BABAKU NGAPUNGNA PEUTING -- (terbang digelapnya malam)
  TI PEUTING KAKALAYANGAN -- (terbang melayang-layang menjelajahi kegelapan malam)
  NEANGAN NU AMIS-AMIS -- (mencari segala yang manis-manis)
  SARUPA NING BUBUAHAN -- (seperti halnya buah-buahan)
  NAON BAE NU KAPANGGIH -- (apa pun yang dapat ditemukan)

KINANTI berasal dari dua (2) kata, yaitu :
- KIN / engkin / engke = kelak / suatu saat
- ANTI =  tunggu (*dianti-anti = ditunggu-tunggu)
Maka, KINANTI arti sebenarnya adalah "SUATU SAAT YANG DITUNGGU-TUNGGU" atau "SUATU SAAT YANG DINANTIKAN"

Sering kali Kinanti ini dijawab hanya sebagai KELELAWAR (kalong) saja karena pupuh tersebut diakhiri dengan pertanyaan. Tidak banyak yang mampu menjawab / menguraikan makna sesungguhnya yang lebih mendalam... Oleh masyarakat Jawa Barat (*pun oleh para seniman Karawitan) pupuh Kinanti tidak pernah dianggap sebagai AJARAN / WEJANGAN dari para leluhur,... mungkin...karena lebih sering dilantunkan oleh anak-anak kecil di Jawa Barat... atau karena memang mereka tidak memahaminya (?).... oleh sebab itu, mari kita gali bersama  :)

1. BUDAK LEUTIK BISA NGAPUNG BABAKU NGAPUNGNA PEUTING
Ini adalah silib-siloka tentang generasi terakhir yang telah 'kehilangan penglihatan' (kehilangan jejak). Dengan pengetahuannya yang kecil / sempit / terbatas ia menjelajahi jaman yang sudah tidak bercahaya / gelap.
Malam hari merupakan siloka dari Kaliyuga / abad kegelapan, dimana kehidupan sudah mendekati saatnya kehancuran.

2. TI PEUTING KAKALAYANGAN NEANGAN NU AMIS-AMIS
Ia terbang mencari bukti-bukti kebaikan / ajaran-ajaran peninggalan para leluhurnya dari pohon kehidupan / pohon ruang dan waktu (KALA-PA-TARU).
Dalam kebutaannya di Jaman Hitam (*sudah buta - gelap pula :)  ia hanya mengandalkan 'penciuman' naluri (*radar / kreteg / kata-hati / rasa) untuk kembali mendapatkan "keindahan ajaran, buah karya para leluhurnya".

3. SARUPA NING BUBUAHAN NAON BAE NU KAPANGGIH
Di Jaman Kegelapan apalagi sudah dalam keadaan buta, secara naluriah ia mencoba mendapatkan PHALA / buah (*dharma phala = buah kebaikan, karma phala = buah perilaku)... dari jenis phala / buah-buah apapun yang ada yang masih tersisa akan diambilnya.

Pupuh Kinanti merupakan sebuah pesan berupa sandi-sandi akhir jaman atau jaman kegelapan (Kaliyuga) yang diungkapkan dengan istilah "malam hari" yaitu perlambang waktu berkuasanya Sang Hyang Wisnu.... dan anak kecil ('batman') itu adalah "kita" yang hidup saat ini yang giat menggali dan mencari jejak AJARAN yang diwariskan oleh para Leluhur Agung negeri ini.

Semoga para 'Batman' yang berhasil mendapatkan 'manisnya buah warisan para leluhur' dapat hidup selamat dan berbahagia.... Ahuuung...!

Tabe Pun _/|\_
Rahayu Sagung Dumadi

Friday, October 12, 2012

sejarah rebab


Sampurasun

Dalam kebudayaan bunyi-bunyian (music) para leluhur bangsa Indonesia memperkenalkan kepada bangsa-bangsa di dunia mengenai "suara" yang setia mengabdi kepada pemberi cahaya kehidupan (Matahari/Sunda). Suara tersebut pada dasarnya dapat kita dengar dalam keseharian, namun yang lebih utama adalah setiap menjelang terbit matahari yang menandakan "kehidupan di planet Bumi dimulai".

Di dalam ruang berpikir Bangsa Matahari, AYAM JAGO menjadi perlambang / bagian yang tidak terpisahkan antara keduanya. Ayam Jago merupakan "abdi setia" terhadap terbitnya Matahari, dan sebaliknya Matahari begitu setia "menyinari kehidupan". Tentu saja hal ini merupakan keselarasan alam hasil daya cipta Yang Maha Kuasa.

Ayam Jago sebagai abdi-setia terhadap cahaya kehidupan tentu sudah selayaknya mendapat sebutan RA-BABU (Pengabdi Matahari), dan untuk hal tersebut para leluhur Bangsa Matahari mengabadikan "suara Ra-Babu" dalam bentuk alat bunyi (alat music) yang saat ini kita mengenalnya dengan istilah REBAB.

Dengan kecerdasan dan mutu keindahan (estetika) yang mumpuni, para leluhur menciptakan bentuk REBAB dari penyederhanaan sosok Ayam Jago beserta dengan watak suara "kokok-nya". Dengan demikian, BENTUK DAN SUARA REBAB ADALAH PERUMPAMAAN DARI PERWATAK AYAM JAGO... dan alat ini hanya LOGIS jika awal penciptaannya dilakukan oleh Bangsa Matahari.


Tabe Pun, ka sakbeh Ra-Babu
_/|\_
Mugia Rahayu Sagung Dumadi